Senin, 07 Januari 2013

PERAN DAN FUNGSI PUBLIC RELATIONS DALAM ORGANISASI



Peran profesi Public Relations semakin bias tanpa adanya spesialisasi profesi sehingga diharapkan seorang praktisi PR memahami perannya dengan baik, bukan hanya sekedar pelengkap kerja dan pekerjaan rangkap seorang sekretaris direksi. Konsep,peranan petugas PR yang dikembangkan oleh Broom, kemudian dikembangkan oleh Bromm dan Smith (Dozier, 1992) Peran PR merupakan salah satu kunci penting untuk pemahaman fungsi PR dan komunikasi organisasi.

Manfaat dan peran PR
Selain peran dominan dan peran profesional bisa dilaksnakan dengan komitmen sehingga bisa tercapai tujuan manajerial dan operasional sebuah organisasi :

1. Membuat organisasi bersikap responsif terhadap kepentingan publik dan kontribusinya kepada sistem informasi publik yang amat penting bagi masyarakat demokratis dan kelangsungan hidup organisasi.
2. Membantu dan mempertahankan hubungan antara publik dengan manajemen oraganisasional yang memerhatikan tanggung jawab sosial dan kepemimpinan yang bermoral
3. Membantu organisasi untuk mengantisipasi dan merespons persepsi dan opini publik. Merespon nilai dan gaya hidup yang baru, merespons pergeseran di antara elektorat dan di dalam lembaga legislatif, dan merespos perubahan-perubahan lain di lingkungan.
4. Membuat informasi menjadi tersedia melalui sistem informasi publik. Dan juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ke publik dengan mendukung pernyataan pendapat dan debat pasar ide yang kompetitif.
5. Melayani kepentingan publik dengan sudut pandang alternatif dalan forum publik, termasuk suara dari orang-orang yang diabaikan oleh media massa.
6. Membantu masyarakat dengan menjadi perantara konflik dan membangun konsensus yang dibutuhkan untuk ketertiban sosial.
7. Memfasilitasi atau membantu penyesuaian dan pemiliharaan dalam sistem sosial yang memberi kita kebutuhan sosial dan fisik

Fungsi PR
Pada hakikatnya PR adalah aktiftas. maka sebenarnya tujuan PR dapat dianalogikan dengan tujuan komunikasi yakni adanya penguatan dan perubahan kognisi, apeksi dan prilaku komunikasintya. Namun kata "relations" menunjukan kata kerja aktif maka harus dilihat dari dua kepentingan yaitu organisasi dan publik sehingga tujuan PR adalah terpeliharanya dan terbentuknya saling penegrtian (aspek kognisi), menjaga dan membentuk saling percaya (aspek afeksi) dan memellihara serta menciptakan kerjasama (aspek psiomotoris)

Bagian-Bagian dari Fungsi PR:

• Hubungan Internal, adalah bagian khusus PR yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling bermanfaat antara manajer dan karyawan tempat organisasi mengantungkan kesuksesannya.

• Publisitas, adalah sumber-sumber informasi yang disediakan oleh PR dan digunakan oleh media karena informasi itu memiliki nilai berita. Metode penempatan pesan di media ini adalah pesan di media ini adalah metode yang tak bisa dikontrol (uncontrolled) sebab sumber informasi tidak memberi bayaran kepada media untuk pemuatan informasi tersebut.

• Advertising, informasi yang digunakan oleh PR untuk menjangkau audien yang lebih luas, bukan untuk konsumen yang menjadi sasaran marketing, dimana informasi yang ditempatkan di media oleh sponsor tertentu yang jelas identitasnya yang membayar ruang dan waktu penempatan informasi tersebut. Ini adalah metode terkontrol dalam menempatkan pesan di media.

• Press Agentry,adalah penciptaan berita dan peristiwa yang bernilai berita untuk menarik media massa dan mendapatkan perhatian publik. Banyak praktisi PR kadang-kadang menggunakan taktik press agentry untuk menarik perhatian media kepada kliennya, organisasinya, atau tujuannya. Tetapi PR lebih dari sekedar press agentry.

• Public Affairs adalah bagaian khusus dari PR yang membangun dan mempertahankan hubungan pemerintah dan komunitas lokal dalam rangka memengaruhi kebijakan publik.

• Lobbying adalah bagian khusus dari PR yang berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan pemerintah terutama dengan tujuan memengaruhi penyusunan undang-undang dan regulasi.

• Manajemen Isu adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengindentifikasi, mengevaluasi, dan merespon isu-isu kebijakan publik yang memengaruhi hubungan organisasi dengan publik mereka. Secara administratif atau secara konseptual, manajemen isu adalah bagian fungsi PR, akan tetapi, jika dilihat sebagai komunikasi persuasif, ia menjadi taktik untuk memengaruhi kebijakan publik, bukan sebagai bagian dari perencanaan strategi organisasi.

• Hubungan Investor adalah bagian dari PR dalam perusahaan korporat yang membangun dan menjaga hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan dengan shareholder dan pihak lain di dalam komunikasi keuangan dalam rangka memaksimalkan nilai pasar

• Pengembangan adalah bagian khusus dari PR dalam organisasi nirlaba yang bertugas membangun dan memelihara hubungan dengan donor dan anggota dengan tujuan mendapatkan dana dan dukungan sukarela

peran humas dalam pemerintahan

Bakohumas

Optimalisasi Peran Humas Pemerintah Dalam Menciptakan Kinerja Pemerintah Yang Optimal
19/11/2012 - Kategori : Bakohumas

PERTEMUAN TAHUNAN BAKOHUMAS TINGKAT NASIONAL DAN LOMBA ANUGERAH MEDIA HUMAS 2012

Optimalisasi Peran Humas Pemerintah Dalam Menciptakan Kinerja Pemerintah Yang Optimal
Dalam rangka Pertemuan Tahunan Bakohumas Tingkat Nasional tahun 2012 dan Lomba Anugerah Media Humas 2012, Selasa sampai Rabu (6-7/11) yang mengusung tema “Optimalisasi Peran Humas Pemerintah Dalam Menciptakan Kinerja Pemerintah Yang Optimal” ini dilakukan di Hotel Aston, Makassar. Hadir Menteri Kominfo, Tifatul Sembiring memberikan sambutan dan Gubernur Sulawesi Selatan, H. Syahrul Yasin Limpo dan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Freddy H Tulung.
Narasumber dalam acara tersebut menghadirkan Wamen Hukum dan HAM, Denny Indrayana membahas Peran Humas Pemerintah dalam mengkampanyekan Gerakan Anti Korupsi, Peran Kepolisian dalam Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi oleh Direktorat Tipikor Bareskrim Polri, Kombes.Pol Erwanto Kurniadi, Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR sebagai Ketua Perhumas, membahas Kemitraan antara pemangku kepentingan dan humas pemerintah dalam diseminasi informasi, Wamen Pertahanan, Letjen Sjafrie Sjamsoeddin membahas tentang RUU Keamanan Nasional Melindungi Kepentingan Nasional, Dir. Pemberitaan Metro TV, Tommy Suryopratomo membahas Mengkomunikasikan Kebijakan Publik, Suahasil Nazara sebagai Koordinator Pokja Kebijakan membahas Penanggulangan Kemiskinan dan Penguatan Peran (TKPK), pada hari berikutnya Diskusi panel dan tanya jawab oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D memberikan materi tentang Winner or Loser.
Menurut Prita, ”Kehadiran Humas dibutuhkan terutama dalam rangka mendiseminasi berbagai informasi publik yaitu semua informasi yang memang wajib disampaikan badan publik (lembaga pemerintah) kepada masyarakat”. Lanjut Prita, untuk menjalankan tugas secara profesional maka ada berbagai faktor yang turut mendukung kelancaran tugas seorang Humas antara lain: memahami cara berkomunikasi yang baik; memahami budaya birokrasi dan juga memahami adat istiadat masyarakat setempat, dimana Humas bertugas.

Erwanto mengungkapkan Pemberantasan korupsi tidak mungkin dilakukan sendirian tanpa upaya saling mendukung dan sinergitas seluruh komponen bangsa dengan disertai komitmen yang kuat untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang bebas korupsi.
Dikatakan Freddy H. Tulung, ”Dimanapun pejabat Humas bertugas dapat memberikan manfaat dan nilai tambah kepada lingkungannya, itulah tugas yang paling utama dari Pejabat Humas”. Beberapa isu strategis yang harus kita tindaklanjuti dari hasil pertemuan Bakohumas nasional ini antara lain: Pertama, penguatan peran, tugas dan fungsi kehumasan pemerintah baik secara regulasi, kelembagaan maupun substansi dalam mendukung diseminasi informasi kepada pemangku kepentingan dalam konteks yang lebih luas humas pemerintah harus dapat beradaptasi akan penerapan keterbukaan komunikasi publik, isu-isu strategis yang harus segera kita bersama realisasikan antara lain perlu dilakukan pemetaan kelembagaan humas; kedua, bakohumas dan terutama teman-teman yang mewakili humas-humas Pemerintah daerah; Ketiga, kapasitas Sumber Daya Manusia Kehumasan itu sendiri.
Lanjutnya, yang kurang dari Humas sekarang adalah bagaimana memanfaatkan humas yang bisa memperkaya nuansa komunikasi kita di ruang publik dapat menjadi salah satu kelembagaan yang ikut berkontribusi didalam memperkaya ketersediaan konten-kontens yang berbasis edukatif, berbasis pencerahan (Lightment) dan pemberdayaan masyarakat. Ia pun menyampaikan harapannya saat menutup acara Pertemuan Tahunan Bakohumas Tingkat Nasional, Rabu (7/11) semoga memberikan hasil yang optimal. (Dian NK)


Pusat Data Statistik dan Informasi
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Gedung Mina Bahari I lantai 3A
JL. Medan Merdeka Timur No.16
Jakarta Pusat 10110
Telp. (021) 3519070 ext. 7440
Fax. (021) 3519133

Tokoh PR Indonesia " Prita Kemal Gani "

“… ketika terjadi krisis di Indonesia yang menyebabkan kerusuhan, beberapa tenaga pengajar asing di London School memutuskan untuk pulang ke negerinya. Ketika itu saya pikir tamatlah riwayat kami. Namun ternyata justru di sinilah awal kebangkitan London School, karena kami didukung oleh para dosen yang notabene praktisi senior di bidang Public Relations.”
Gurat kecantikan wanita Indonesia yang diidolakan semasa muda masih sangat kental menghiasi rautnya di usia menjelang paroh baya saat ini. Rupa nan elok dipadu keramahan mempesona dan penampilan lugas amat simpatik senantiasa membiaskan keteduhan dan ”rasa akrab” bagi sesiapa saja yang mengenal atau ”punya urusan” dengannya. Kesan itulah yang akan Anda dapatkan ketika bertemu dan bercakap-cakap dengan Ibu Prita, panggilan akrabnya, seorang tokoh public relations Indonesia, Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relation (STIKOM-LSPR) Jakarta.
Nama lengkapnya Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR, terlahir dari keluarga campuran Jawa – Sumatera Barat, ayahnya Sudaryono (alm) “wong Solo” dan ibunya Ny. Tity dari Padang. Masa kecil Ibu Prita lebih banyak dilalui di bawah asuhan ibunya setelah ditinggal mati ayah ketika Prita berumur lima tahun. Pada kondisi tersebut, ia tumbuh menjadi pemudi penuh idealisme kemandirian seperti ibunya. Menurut Prita, ibunya tidak hanya terampil sebagai ibu rumahtangga, tetapi juga sukses mengurus bisnis sebuah hotel di Bengkulu. Belajar dari ibunya itu, Prita akrab dengan pekerjaan domestik, seperti memasak, mencuci, bersih-bersih dan menata rumah, dan lain-lain.
Kiprah Ibu Prita mulai mencuat di dunia pendidikan tinggi di Indonesia pada tahun 1999. Saat itu lembaga kursus Public Relations (PR) yang didirikannya tahun 1992 ditingkatkan menjadi sekolah tinggi bidang PR (Humas), populer dengan nama STIKOM-LSPR (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations), Jakarta. Sukses itu tidak terlepas dari dorongan citi-citanya sejak kecil yang ingin menjadi guru. “Cita-cita saya sejak kecil ingin menjadi guru dan cita-cita inilah yang menarik saya untuk berada pada bidang pendidikan,” katanya saat wawancara ekslusif beberapa waktu lalu.
Selain terobsesi sejak kanak-kanak menjadi guru, Prita juga menggemari dunia public relations, terutama sejak kuliah diploma bidang Manajemen Hotel di Universitas Trisakti, ketika Job Training di hotel berbintang di department public relations. “Ingin menjadi guru dan kesukaan saya di bidang public relations inilah yang menjadikan saya berkarir di pendidikan komunikasi terutama Public Relations,” aku Prita.
Menggeluti dunia pendidikan bagi pemilik rambut sebahu yang sempat menyelesaikan pendidikan Public Relations di London City College of Management Studies, Inggris, adalah lahan menyemai kebaikan. Baginya, hidup ini adalah untuk menjalankan karma yang baik. “Falsafah hidup saya adalah untuk menjalankan hal-hal yang baik (good karma) dan tak melakukan hal yang buruk (bad karma). Hal ini saya jabarkan dalam visi dan misi hidup saya yakni untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang, terutama keluarga saya, sanak saudara serta keluarga besar LSPR termasuk mahasiswa/i.” demikian ungkap mantan Director of Public Relations for Clarck Hatch International, Jakarta Indonesia (1989-1992) itu.
Sudah pasti banyak hambatan dan kesulitan yang dihadapi oleh Ibu Prita dalam mengemban tugasnya sebagai pimpinan STIKOM-LSPR, terutama karena lembaga pendidikan ini adalah kampus multikultural, menghimpun banyak sekali peserta didik dan pengajar dari beragam latar belakang, tidak hanya antar daerah tapi juga antar bangsa/negara. “STIKOM LSPR adalah kampus multikultural yang memberikan kebebasan dari masing-masing budaya, dan itu bukan hal yang sederhana,” ujar peraih Master of Business Administration – International Academy of Management & Economic, Manila, Philippines (1990).
Untuk mengatasi persoalan dan kesulitan yang dihadapinya, Prita mempunyai tips yang cukup sederhana dan dapat diterapkan oleh siapa saja di mana saja. “Kiat-kiat saya dalam memimpin STIKOM-LSPR adalah: pertama, saya menjadi bahagian dari team dan berusaha menciptakan hubungan kerja yang harmonis, sehingga menimbulkan aura yang baik yang dapat menciptakan kreatifitas. Kedua, menjadikan mahasiswa/i, aset London School untuk kreativitas dan sumber energi.” Melalui penerapan strategi tersebut, istri Kemal Effendi Gani (Direktur dan Pimpinan Redaksi Majalah SWA) itu akhirnya mampu membuat bendera STIKOM-LSPR Jakarta makin berkibar.
Adakah hal atau peristiwa paling berkesan selama mengelola STIKOM-LSPR, Bu Prita? Mendapat pertanyaan itu, ibu dari Ghina Amani Kemal Gani (P), Fausan Kanz Kemal Gani (L), dan Raysha Dinar Kemal Gani (P), menerawang sejenak, mengingat-ingat peristiwa paling bermakna dalam mengembangkan usahanya. ”Peristiwa penting yang berkesan, yaitu ketika terjadi krisis di Indonesia yang menyebabkan kerusuhan dan beberapa tenaga pengajar asing di London School memutuskan untuk pulang ke negerinya. Ketika itu saya pikir tamatlah riwayat kami, namun ternyata justru di sinilah awal kebangkitan London School, karena kami didukung oleh para dosen yang notabene praktisi senior di bidang Public Relations.” Tantangan yang dihadapi bangsa, terutama generasi muda, amat berat dan kompleks. Oleh karena itu, satu-satunya andalan kita adalah ”be the best” agar mampu mengatasi persoalan yang datang. Itulah yang membuat STIKOM-LSPR bisa survive, menyediakan yang terbaik bagi peserta didiknya.
Peraih beberapa penghargaan bergengsi, antara lain Achievement Award (bidang pendidikan) dari Perhumas tahun 2006 ini, mengingatkan generasi muda Indonesia bahwa sudah pasti globalisasi merupakan tantangan terbesar yang akan dihadapi ke masa depan. Bukan hanya kualitas pendidikan dan bahasa Inggris, disiplin dan professionalisme juga sangat dibutuhkan untuk dapat menjadi bahagian dari generasi muda yang sukses di era globalisasi.
Itulah Prita Kemal Gani, enterpreneur wanita Indonesia yang amat layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh wanita Indonesia lainnya. Ia amat terobsesi untuk perbaikan bangsa dan negaranya melalui lembaga pendidikan yang didirikan dan dipimpinya itu. ”Saya ingin membangkitkan semangat kretivitas mahasiswa London School ke area internasional dan mendapat pengakuan internasional yang berdampak pada perbaikan ekonomi di Indonesia.” ujarnya optimis di akhir perbincangan.
Terima kasih Ibu Prita, selamat berkarya bersama STIKOM-LSPR untuk Indonesia!

Biodata singkat:
Nama : Prita Kemal Gani
TTL: Jakarta, 23 November 1961
Agama: Islam
Hobi: Masak, baca, dan renang
Ayah: Sudaryono (almarhum)
Ibu: Ny. Tity
Suami: Kemal Effendi Gani
Anak: Ghina Amani Kemal Gani (P), Fausan Kanz Kemal Gani (L), Raysha Dinar Kemal Gani (P)
Alamat: Bukit Pamulang Indah V, Blok A3 No 12-13 Pamulang Ciputa

Minggu, 06 Januari 2013

Sejarah dan Perkembangan Public Relations


Sejarah dan Perkembangan Public Relations



Humas kependekan dari hubungan masyarakat. Hal ini seringkali disederhanakan sebagai sebuah terjemahan dari istilah Public Relations (PR). Sebagai ilmu pengetahuan, PR masih relatif baru bagi masyarakat Indonesia. PR sendiri merupakan gabungan berbagai imu dan termasuk dalam jajaran ilmu-ilmu sosial seperti halnya ilmu politik, ekonomi, sejarah, psikologi, sosiologi, komunikasi dan lain-lain.
Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini PR mengalami perkembangan yang sangat cepat.  Namun perkembangan PR dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun kualitasnya.Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi masyarakat yang kompleks.
PR merupakan pendekatan yang sangat strategis dengan menggunakan konsep-konsep komunikasi (Kasali, 2005:1). Di masa mendatang PR diperkiraan akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Pemerintah AS mempekerjakan 9000 karyawan di bidang komunikasi yang ditempatkan di United States Information Agency.  
Perkembangan Humas di Dunia
Dalam sejarahnya istilah Public Relations sebagai sebuah teknik menguat dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906 berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara di Amerika Serikat dengan sukes. Atas upayanya ini ia diangkat menjadi The Father of Public Relations.
Perkembangan PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadaan manusia. Unsur-unsur memberi informasi kepada masyarakat, membujuk masyarakat, dan mengintegrasikan masyarakat, adalah landasan bagi masyarakat.
Tujuan, teknik, alat dan standar etika berubah-ubah sesuai dengan berlalunya waktu. Misalnya pada masa suku primitif mereka menggunakan kekuatan, intimidasi atau persuasi ntuk memelihara pengawasan terhadap pengikutnya. Atau menggunakan hal-hal yang bersifat magis, totem (benda-benda keramat), taboo (hal-hal bersifat tabu), dan kekuatan supranatural.
Penemuan tulisan akan membuat metode persuasi berubah. Opini publik mulai berperan. Ketika era Mesir Kuno, ulama merupakan pembentuk opini dan pengguna persuasi. Pada saat Yunani kuno mulai dikembangkan Olympiade untuk bertukar pendapat dan meningkatkan hubungan dengan rakyat. Evaluasi mengenai pendapat atau opini publik merupakan perkembangan terakhir dalam sejarah kemanusiaan.
Dasar-dasar fungsi humas ditemukan dalam revolusi Amerika. Ketika ada gerakan yang direncanakan dan dilaksanakan. Pada dasarnya, masing-masing periode perkembangan memiliki perbedaaan dalam startegi mempengaruhi publik, menciptakan opini publik demi perkembangan organisasinya.
Berikut gambaran kronologis PR di dunia:
Abad ke-19      :     PR di Amerika dan Eropa merupakan program studi yang
                                 mandiri didasarkan pada perkembangan  Ilmu
                                 pengetahuan dan teknologi.
1865-1900    :     Publik masih dianggap bodoh
1900-1918    :     Publik diberi informasi dan dilayani
1918-1945     :     Publik diberi pendidikan dan dihargai
1925               :     Di New York, PR sebagai pendidikan tinggi resmi
1928               :     Di Belanda memasuki pendidikan tinggi dan minimal di
                             fakultas sebagai mata kuliah wajib.  Disamping itu
                             banyak diadakan kursus-kursus yang bermutu
1945-1968     :     Publik mulai terbuka dan banyak mengetahui
1968               :     Di Belanda mengalami perkembangan pesat. Ke arah
                              ilmiah karena penelitian yang rutin dan kontinyu.
                              Di Amerika perkembangannya lebih ke arah bisnis.
1968-1979       :   Publik dikembangkan di berbagai bidang,
                               pendekatan tidak hanya satu aspek saja
1979-1990       :     Profesional/internasional memasuki globalisasi dalam
                                 perubahan mental dan kualitas
1990-sekarang :     a. perubahan mental, kualitas, pola pikir, pola pandang,
                                  sikap dan  pola perilaku secara nasioal/internasional
                               b. membangun kerjasama secara lokal, nasional,  internasional
                               c. saling belajar di bidang politik, ekonomi, sosial budaya,
                                  Iptek, sesuai dengan kebutuhan era global/informasi